Sunday, December 10, 2017

Penjelasan Hadits Arbain no. 1

Syarah /penjelasan kumpulan hadits pilihan Al Imam An Nawawi rahimahullah (Arbain An Nawawi) 

Penjelasan Hadits Arbain no. 1
Penjelasan Hadits Arbain no. 1

Hadits no 1.
AMAL ITU TERGANTUNG NIATNYA
عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.
[ *Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907* ]
Hadits ini adalah Hadits shahih yang telah disepakati keshahihannya, ketinggian derajatnya dan didalamnya banyak mengandung manfaat. Imam Bukhari telah meriwayatkannya pada beberapa bab pada kitab shahihnya, juga Imam Muslim telah meriwayatkan hadits ini pada akhir bab Jihad.
Hadits ini salah satu pokok penting ajaran islam. Imam Ahmad dan Imam Syafi’I berkata : “Hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu.” Begitu pula kata imam Baihaqi dll. Hal itu karena perbuatan manusia terdiri dari niat didalam hati, ucapan dan tindakan. Sedangkan niat merupakan salah satu dari tiga bagian itu. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i, “Hadits ini mencakup tujuh puluh bab fiqih”, sejumlah Ulama’ mengatakan hadits ini mencakup sepertiga ajaran islam.
Para ulama gemar memulai karangan-karangannya dengan mengutip hadits ini. Di antara mereka yang memulai dengan hadits ini pada kitabnya adalah Imam Bukhari. Abdurrahman bin Mahdi berkata : “bagi setiap penulis buku hendaknya memulai tulisannya dengan hadits ini, untuk mengingatkan para pembacanya agar meluruskan niatnya”.
Hadits ini dibanding hadits-hadits yang lain adalah hadits yang sangat terkenal, tetapi dilihat dari sumber sanadnya, hadits ini adalah hadits ahad, karena hanya diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Dari Umar hanya diriwayatkan oleh ‘Alqamah bin Abi Waqash, kemudian hanya diriwayatkan oleh Muhammad bin Ibrahim At Taimi, dan selanjutnya hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’id Al Anshari, kemudian barulah menjadi terkenal pada perawi selanjutnya. Lebih dari 200 orang rawi yang meriwayatkan dari Yahya bin Sa’id dan kebanyakan mereka adalah para Imam.
Pertama : Kata “Innamaa” bermakna “hanya/pengecualian” , yaitu menetapkan sesuatu yang disebut dan mengingkari selain yang disebut itu. Kata “hanya” tersebut terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian secara mutlak dan terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian yang terbatas. Untuk membedakan antara dua pengertian ini dapat diketahui dari susunan kalimatnya.
Misalnya, kalimat pada firman Allah : “Innamaa anta mundzirun” (Engkau (Muhammad) hanyalah seorang penyampai ancaman). (QS. Ar-Ra’d : 7)
Kalimat ini secara sepintas menyatakan bahwa tugas Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam hanyalah menyampaikan ancaman dari Allah, tidak mempunyai tugas-tugas lain. Padahal sebenarnya beliau mempunyai banyak sekali tugas, seperti menyampaikan kabar gembira dan lain sebagainya. Begitu juga kalimat pada firman Allah : “Innamal hayatud dunyaa la’ibun walahwun” à “Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan dan permainan”. (QS. Muhammad : 36)
Kalimat ini (wallahu a’lam) menunjukkan pembatasan berkenaan dengan akibat atau dampaknya, apabila dikaitkan dengan hakikat kehidupan dunia, maka kehidupan dapat menjadi wahana berbuat kebaikan. Dengan demikian apabila disebutkan kata “hanya” dalam suatu kalimat, hendaklah diperhatikan betul pengertian yang dimaksudkan.
Pada Hadits ini, kalimat “Segala amal hanya menurut niatnya” yang dimaksud dengan amal disini adalah semua amal yang dibenarkan syari’at, sehingga setiap amal yang dibenarkan syari’at tanpa niat maka tidak berarti apa-apa menurut agama islam. Tentang sabda Rasulullah, “semua amal itu tergantung niatnya” ada perbedaan pendapat para ulama tentang maksud kalimat tersebut. Sebagian memahami niat sebagai syarat sehingga amal tidak sah tanpa niat, sebagian yang lain memahami niat sebagai penyempurna sehingga amal itu akan sempurna apabila ada niat.
Kedua : Kalimat “Dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya” oleh Khathabi dijelaskan bahwa kalimat ini menunjukkan pengertian yang berbeda dari sebelumnya. Yaitu menegaskan sah tidaknya amal bergantung pada niatnya. Juga Syaikh Muhyidin An-Nawawi menerangkan bahwa niat menjadi syarat sahnya amal. Sehingga seseorang yang meng-qadha sholat tanpa niat maka tidak sah Sholatnya, walahu a’lam
Ketiga : Kalimat “Dan Barang siapa berhijrah kepada Allah dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya” menurut penetapan ahli bahasa Arab, bahwa kalimat syarat dan jawabnya, begitu pula mubtada’ (subyek) dan khabar (predikatnya) haruslah berbeda, sedangkan di kalimat ini sama. Karena itu kalimat syarat bermakna niat atau maksud baik secara bahasa atau syari’at, maksudnya barangsiapa berhijrah dengan niat karena Allah dan Rosul-Nya maka akan mendapat pahala dari hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya.
Hadits ini memang muncul karena adanya seorang lelaki yang ikut hijrah dari Makkah ke Madinah untuk mengawini perempuan bernama Ummu Qais. Dia berhijrah tidak untuk mendapatkan pahala hijrah karena itu ia dijuluki Muhajir Ummu Qais.
*Pelajaran yang terdapat dalam Hadits* / الفوائد من الحديث :
1. Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).
2. Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.
3. Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shaleh dan ibadah.
4. Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.
5. Semua pebuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah.
6. Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.
7. Hadits diatas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.
muslimmedia.Syarah Arbain Nawawi
Grup WA : Cahaya Sunnah
Admin: 085345326432
Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan Allâh membalas anda dengan kebaikan karena telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.
Read more ...

Saturday, November 4, 2017

Tanda kemunafikan (Muhasabah Diri)

15 Shofar 1439H

Tanda kemunafikan (Muhasabah Diri)
Tanda kemunafikan


Sebagaimana diketahui bahwa kaum munafik diancam oleh Allah dengan mendapat siksa di dalam Neraka Jahannam!

{وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ} [التوبة: 68]

Artinya: “Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah melaknati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal.” QS. At Taubah: 68.

❀  قـــــال الإمـام ابن الـقـيم
       رحمہ الله تعالــــــﮯٰ
فهــذه سِــتُّ صــفات فــي الصــلاة مــن عــلامات النــفاق :
① - الكـسل عنـد القـيام إليـها ..
② - ومـراءاة الـناس فـي فعـلها ..
③ - وتأخـــيرها ..
④ - ونَقْــــرِها ..
⑤ - وقــلة ذكـــر الله فــيها ..
⑥ - والتخلـــف عـــن جــماعتها.
 ❪ الصــلاة وحــكم تاركهــا  ❪ ١/١٧٣ ❫
※Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah ta'ala :
Ini adalah enam sifat dalam sholat termasuk tanda-tanda kemunafikan :
① Malas ketika menunaikan sholat.
② Ingin dilihat manusia ketika mengerjakannya.
③ Mengakhirkannya
④ Buru-buru.
⑤ Sedikit mengingat Allah dalam sholat.
⑥ Meninggalkan berjamaah.
As-Sholah wa Hukmu2 Taarikiha  (1/173)
Salam Dakwah
Admin SDC
Read more ...

Tuesday, June 6, 2017

Kedudukan Akal dan Dalil (Wahyu) Part 2

Bismillah.
ini merupakan bagian kedua dari tulisan saya yang berjudul sama yaitu Kedudukan Akal dan Dalil (Wahyu) Part1.

hukum mengucapkan kafir
Muslim - kafir
  Tulisan ini saya buat dalam rangka nasihat kepada kaum muslimin yang mungkin sedang belajar mendalami agama Islam ataupun yang sekadar terpengaruh syubhat tulisan2 kaum sekular, pluralis &liberalis sebagaimana yang sedang hangat dibicarakan khususnya di dunia maya belakangan ini. dalam rangka mengamalkan sabda Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam:
عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه, أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)

Pada tulisan saya sebelumnya, mungkin sebagian orang tidak setuju, bahkan mungkin menganggap tulisan tersebut tidak bermutu dan semacamnya. Namun hal tersebut bukanlah masalah selama ada kebaikan yang bisa disampaikan maka saya berusaha semampu saya untuk yang terbaik. Tujuan tulisan ini adalah untuk membantah syubhat (kerancuan) yang dikeluarkan oleh (sebagian kecil) penulis-penulis liberal. Saya pribadi tidaklah fokus kepada sosok penulisnya, karena ini bukanlah masalah siapa penulis tersebut, apakah masih muda, atau tua, tapi masalah idenya. Karena walaupun Si Penulis mungkin telah berhenti menulis, mengaku salah atau mungkin sudah bertaubat, tapi ide-ide yang sudah terlanjur tersebarlah yang berbahaya. Bisa jadi ide-ide ini sudah diyakini beberapa kaum muslimin sehingga memudharatkan dirinya. inilah yang ingin kita hentikan.

Beberapa ide dalam tulisan-tulisan pengusung logika dalam beragama antara lain adalah menganggap bahwa tidak boleh seorang muslim berkata kafir kepada nonmuslim. Hal ini dipandang bentuk penghinaan. Tulisan kali ini mencoba membahas masalah ini.

Pengertian Kafir
Kāfir (كافر kāfir; plural كفّار kuffār) artinya adalah menolak atau tidak percaya, atau secara singkat kafir adalah kebalikan dari percaya (beriman).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kafir adalah orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya. Ada kafir harbi yaitu orang kafir yang mengganggu dan mengacau keselamatan Islam sehingga wajib diperangi, ada kafir muahid yaitu orang kafir yang telah mengadakan perjanjian dengan umat Islam bahwa mereka tidak akan menyerang atau bermusuhan dengan umat Islam selama perjanjian berlaku, dan ada kafir zimi yaitu orang kafir yang tunduk kepada pemerintahan Islam dengan kewajiban membayar pajak bagi yang mampu. [sumber ]

saya rasa penjelasan mengenai makna kafir sudah jelas dengan pengertian umum di atas. Maka sekarang kita gunakan pendekatan untuk menggunakan istilah kafir tersebut kepada kalangan di luar Islam.

Setiap komunitas, organisasi, institusi, grup atau apapun nama dan bentuk kelompoknya sudah pasti ada istilah untuk "orang dalam" dan "orang luar" kelompoknya. Pembagian golongan ini bisa berdasarkan apa saja, apakah berdasarkan pekerjaan, latar belakang, bahkan keyakinan. contohnya dalam istilah negara kita ada pembedaan status WNI (Warga Negara Indonesia) dan ada WNA (Warga Negara Asing) berdasarkan syarat-syarat dan ketentuan yang berlaku. Tidak bisa semua orang kita katakan WNI, atau WNA semua. Bagi yang ingin jadi WNI bisa jika memenuhi syarat & ketentuan yang ditetapkan pemerintah tentu saja.
Nah, dalam Islam pembagian ini juga berlaku. Seorang "dalam" lingkungan Islam disebut muslim/mu'min dan orang "luar" kita katakan kafir. Tidak mungkin kita katakan semua orang itu muslim/mu'min. Sebalikanya tidak mungkin kita katakan kafir. Jika ingin dikatakan muslim/mu'min maka ada syarat dan ketentuan yang harus terpenuhi. Perkara ini seluruh kaum muslimin sudah tahu saya rasa. Hanya tersebar syubhat bahwa istilah kafir tidak boleh digunakan untuk kalangan A, B dst. Padahal kita tahu bersama orang yang bersangkutan bukanlah seorang muslim, tidak beriman kepad Allah ta'ala, tidak beriman kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak beriman kepada Al Qur'an.

Bagaimana bisa seorang yang mengingkari Allah ta'ala, mengingkari Al Qur'an, mengingkari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kita tidak sebut dia kafir (menolak/ingkar)? Atau bahkan kita kategorikan sebagai muslim/mu'min (orang beriman)? Na'udzubilah.  Lagi-lagi syubhat orang-orang Sekularis, pluralis dan liberalis ingin menggugat konsep ini. Padahal ini konsep yang sederhana dan bisa diterima semua kalangan. Tapi dengan syubhat hal yang terang benderang ini menjadi redup dan tidak sedikit kaum muslimin yang akhirnya terpengaruh sehingga kaum muslimin tidak berani mengkafirkan orang yang ststusnya jelas-jelas kafir dalam pandangan Islam.

Padahal mengkafirkan ini termasuk aqidah kaum muslimin. karena jika tidak ada konsep ini, maka konsep-konsep dan hukum syariat Islam akan menjadi rancu. Bahkan jika kita tidak mengkafirkan orang yang tidak telah jelas nyata menunjukkan kekafirannya ini berarti kita mengingkari banyak sekali ayat-ayat Al Qur'an dan Hadits-hadits shahih.
Sebagaimana Firman Allah ta'ala dala AL Qur'an:
“Artinya : Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata : ‘Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam”. [Al Maidah:17]
“Artinya : Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga” [Al Maidah:73]
“Artinya : Orang-orang kafir dari Bani Israel telah dilaknat melalui lisan Daud dan Isa putra Maryam” [Al Maidah : 78]
“Artinya : Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam..” [Al Bayyinah : 6]

Apakah kita ragu terhadap Al Qur'an yang diturunkan kepada kita??
jika ada keraguan maka ketahuilah bahwa kita terjerumus dalam kekufuran dan inilah yang diinginkan oleh iblis dan para pengikutnya.

Mereka menanamkan syubhat agar kaum muslimin tidak mengkafirkan orang kafir dengan Alasan secara logika itu akan menimbulkan permusuhan, menimbulkan diskriminasi, menimbulkan ini dan itu. Sebaliknya jika jika kaum muslim berhenti mengkafirkan orang kafir maka akan tercipta kedamaian, ketentraman dll. Benarkah ini? Ketahuilah ini hanyalah teori berdasarkan perasaan mereka semata. Allah ta'ala berfirman :
 “Artinya : Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)” [Al Qalam :9]

Hikmah dalam masalah takfir terhadap non-muslim

Masyarakat Indonesia yang mayoritas kaum muslimin tentu sangat mengerti bahwa istilah kafir ini adalah perbuata buruk yang paling tercela (dosa terbesar). Oleh karena itulah kaum muslimin mengajarkan dan mendidik keturunannya untuk menghindari kekafiran dan mencela orang yang melakukannya. Demikian pula tidak bosan-bosan para ulama menjelaskan ini kepada ummat agar umat mengerti agar terhindar darinya (kekafiran ini).

Oleh karena itulah stigma yang beredar dalam masyarakat bahwa kata "kafir" berkonotasi sanga negatif. Hal ini mungkin dirasakan oleh orang-orang diluar Islam sebagai "pelecehan" bagi mereka. Namun jika kita review kembali, apakah seseorah harus merasa didiskriminasi jika katakan "Anda orang asing" jika sebenarnya dia benar-benar WNA?
Begitu pula dengan sebutan-sebutan lain seperti "pendatang", atau "orang luar" dan semacamnya.

Seharusnya hal tersebut dimengerti dengan memahami bahwa memang ada aturan yang mengatur itu semua. Pemerintah membuat aturan tentang WNI dan WNA tentu bukan bermaksud mendiskriminasi atau semacamnya, namun menempatkan seseorang sesuai dengan hak dan kewajibannya agar tidak terjadi ketidakadilan. Dengan aturan itu pula pemerintah melindungi warganegaranya. Masing-masing pihak (WNI dan WNA) punya hak dan kewajiban. Justru jika konsep WNI dan WNA ini dihilangkan dampak buruknya akan besar sekali. Demikian juga dalam Islam.

Dalam hal ini penulis bikan berarti mendukung tindakan bully atau semacamnya dengan menggunakan kata-kata "kafir" ini. Tentu tidak kita benarkan juga orang-orang yang berkata secara serampangan. 

Adanya konsep kafir-muslim/mu'min ini sebenarnya hendaknya digunakan dalam situasi yang tepat. Konsep kafir-muslim/mu'min ini sejatinya adalah dasar dari konsep dakwah kita. dimana hendaknya kaum muslimin menjelaskan kedudukan seorang muslim dan kedudukan seorang kafir dalam pandangan agama Islam. Sehingga dengan dasar kelembutan dan kasih sayang kita dakwahi orang-orang kafir agar bisa selamat di dunia dan akhiratnya.

Sekali lagi konsep kafir-muslim/mu'min harus ditanamkan kepada seluruh kaum muslimin dan tidak boleh diingkari karena ini sudah tetap dalam syariat Islam yang mulia ini. katakan kafir kepada orang yang jelas kafir dan katakan muslim/mu'min kepada kaum muslimin. Namun penggunaan kata kafir hendaknya dengan hikmah dan atas dasar dakwah. Dakwah tentu tidak harus dengan kata-kata, karena tidak setiap orang mampu merangkai kata untuk berdakwah. Namun dakwah dengan perbuatan juga tidak kalah pentingnya.

Saya tutup tulisan kali ini dengan firman Allah ta'alaAllah Ta’ala berfirman,

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan ilmu (yang benar), Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (QS. Yusuf: 108).

Allah Ta’ala berfirman,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS. Ali Imron: 110).

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri (Muslim)?” (QS. Fushshilat: 33).

Demikian tulisan ringan ini penulis rangkai, tentu masih jauh dari sempurna dan jika ada masukkan bisa dituliskan di komentar. wallahua'lam.

bersambung In Syaa Allah.

Read more ...

Monday, June 5, 2017

Hukum Arisan Umrah


Hukum Arisan Umrah
Hukum Arisan UmrahHukum Arisan Umrah

Assalaamu’alaykum ustdadz
Saya ingin menanyakan tentang hukum Arisan untuk berangkat Umroh? Mengingat arisan ini bertujuan membantu kawan-kawan yang ingin berangkat ke Tanah Haram namun terkendala biaya.
Arisan ini apabila dijalankan dengan keikutan peserta sebanyak 30 orang maka akan selsesai dalam 2 tahun dimana setiap periode keberangkatan aka nada 2 peserta yang berangkat setiap bulannya kecuali periode tertentu.
Yang menjadi fokusnya adalah:
1. Bila peserta yang telah berangkat lebih awal meninggal dunia sebelum menyelesaikan tanggungan iuran yang telah ditetapkan kepadanya untuk peserta yang belum mendapatkan gilirannya karena antrian nomor urut,
· apakah beban iuran tersebut dijatuhkan kepada ahli waris untuk melanjutkan iuran yang bersangkutan sampai selesai?
· atau para peserta arisan yang lain mengikhlaskan saja beban yang berada pada ahli waris?
2. Bagaimana hukum arisan Umrah ini, mengingat ada larangan untuk berangkat Haji / Umroh dengan system hutang? Hutang dalam jangka waktu tertentu yang insya Allah akan terlunasi dalam periode yang telah ditetapkan.
Demikian pertanyaan yang saya ajuakan.
Semoga Allah Azza Wa Jalla selalu memberikan petunjuk dan HidayahNya untuk kita
Jazakallah Khoiron
Jawab :
[4/6 11:26] Ustadz Nadhif:
Waalaikumsalam
Pada dasarnya berangkat umroh atau haji dg hutang ibadahnya sah, hanya saja tidak masuk kategori mampu. Karena mampu harus mampu secara finansial.
Lantas bagaimana jika org tsb sebelum selesai tanggungan arisannya, apakah harus dibayarkan atau tidak?
Jelas wajib untuk dilunasi, sebelum ahli waris mendapatkan jatah warisan maka terutama harus membayarkan hutang si mayit terlebih dahulu.
Dibayarkan penuh kekurangannya selama kurun waktu dua tahun tsb.
Atau jika tidak keseluruhannya maka dibayarkan dg bertahap sesuai dg akad.
Tapi afdhol apabila dibayarkan keseluruhannya agar tidak ada beban kemudian hari untuk si mayit dan ahli waris.
Wallahu ta'ala a'lam.
Diposkan oleh :
Admin
Senipah Dakwah Center
Read more ...

Kedudukan akal dan dalil (wahyu) part 1

Kedudukan akal dan dalil (wahyu) part 1
Kedudukan akal dan dalil (wahyu) part 1
 
Bismillah
Kelompok yang mengusung akal dalam beragama sebenarnya bukanlah perkara baru dalam sejarah perjalanan agama islam. Orang2 yang cenderung menggunakan akal dalam beragama biasanya terpengaruh oleh pemikiran filsafat (falasifah), mereka biasanya menimbang segala perkara dengan Pertimbangan sesuatu yang disebut "logika". orang-orang yang dikendalikan oleh hawa nafsu dan pelaku bid’ah, golongan menyimpang dalam Islam mengklaim bahwa ilmu-ilmu ilahi (akidah) itu masih ghâmidhah (kabur dan tak terpahami). Menurut mereka, tidak mungkin dimengerti kecuali melalui jalan ilmu manthiq dan filsafat. Bertolak dari sinilah kemudian mereka (kaum Mu’tazilah dan yang sepaham dengan mereka sampai era sekarang) mengadopsi ilmu filsafat untuk dijadikan sebagai perangkat pendukung untuk mendalami akidah Islam ( Tahâful Falâsifah 84. Nukilan dari Tanâquzhu Ahlil Ahwâ wal Bida’ fil ‘Aqîdah’ 1/103. Penulis menyertakan ilmu filsafat sebagai sumber pengambilan hukum kedelapan oleh kalangan ahli bid’ah). (dikutip dari https://almanhaj.or.id/3453-ilmu-filsafat-perusak-akidah-islam.html)
Dalam sejarah pemikiran Islam, filsafat digunakan dalam berbagai kepentingan. Para teolog rasional (mutakallimûn) menggunakan filsafat untuk membela iman khususnya dari para cendekiawan Yahudi dan Kristiani, yang saat itu sudah lebih "maju" secara intelektual. Sedangkan para filosof mencoba membuktikan bahwa kesimpulan-kesimpulan filsafat yang diambil dari gagasan filsafat Yunani tidak bertentangan dengan iman. Para filosof berusaha memadukan ketegangan antara dasar-dasar keagamaan Islam (Syari’ah) dengan filsafat, atau antara akal dengan wahyu. Para filosof Muslim banyak mengambil pemikiran Aristoteles, Plato, maupun Plotinus, sehingga banyak teori-teori filosof Yunani diambil oleh filosof Muslim. Pengaruh filsafat Yunani inilah yang menjadi pangkal kontrafersi sekitar masalah filsafat dalam Islam. Sejauh mana Islam mengizinkan masukan dari luar, khususnya jika datang dari kalangan yang bukan saja Ahl al-kitab seperti Yahudi dan Kristen, tetapi juga dari orang-orang Yunani yang “pagan” atau musyrik. [ dikutip dari : http://filsafatkebingungan.blogspot.com/2015/10/filsafat-islam-sejarah-filsafat-islam.html?m=1 ].
Beberapa kalimat pembuka di atas saya kutip dari sebuah makalah yang tercantum Link nya di atas, namun secara kesimpulan saya bertolak belakang dengan makalah tersebut. Sedangkan para ulama telah menjelaskan tentang hal ini. Antara lain Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah menceritakan, “Orang-orang yang muncul setelah tiga masa yang utama terlalu berlebihan dalam kebanyakan perkara yang diingkari oleh tokoh-tokoh generasi Tabi’in dan generasi Tabi’it Tabi’in. Orang-orang itu tidak merasa cukup dengan apa yang sudah dipegangi generasi sebelumnya sehingga mencampuradukkan perkara-perkara agama dengan teori-teori Yunani dan menjadikan pernyataan-pernyataan kaum filosof sebagai sumber pijakan untuk me’luruskan’ atsar yang berseberangan dengan filsafat melalui cara penakwilan, meskipun itu tercela. Mereka tidak berhenti sampai di sini, bahkan mengklaim ilmu yang telah mereka susun adalah ilmu yang paling mulia dan sebaiknya dimengerti” [ Fathul Bâri (13/253) ].
Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan, “Adapun sumber intervensi pemikiran dalam ilmu dan akidah adalah berasal dari filsafat. Ada sejumlah orang dari kalangan ulama kita belum merasa puas dengan apa yang telah dipegangi oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu merasa cukup dengan al-Qur`ân dan Sunnah. Mereka pun sibuk dengan mempelajari pemikiran-pemikiran kaum filsafat. Dan selanjutnya menyelami ilmu kalam yang menyeret mereka kepada pemikiran yang buruk yang pada gilirannya merusak akidah”.[ Shaidul Khâthir hlm. 226]
Dengan demikian kita tahu bahwa ajaran filsafat bukan berasal dari Islam itu sendiri bahkan "barang impor" dari negeri non muslim. Daya pikir kritis bukanlah hal yang haram dalam islam, namun islam memiliki koridor sendiri dalam menyalurkan pemikiran tersebut. Ada wilayah yang bisa kita kritisi ada yang tidak bisa kritisi. Yang perlu diperhatikan adalah adanya wilayah yang tidak bisa dikritisi bukan berarti perendahan kepada akal manusia, tapi justru merupakan bentuk perhatian kepada akal secara proporsional, sesuai kapasitasnya, sesuai kemampuannya. Dan inilah sebaik-baik tempat bagi akal. Belakangan ini ramai di media sosial tulisan2 orang2 yang mengaku menjunjung tinggi rasionalitas dalam beragama Islam, berkata agama ini adalah sekadar warisan dari orang tua, (bahkan tersirat di tulisan tersebut) seakan orang yang membela mati-matian agamanya digambarkan sebagai seorang "bodoh" karena berebut klaim warisan "terbaik". Wallahul musta'an. Alangkah dangkal nya pemikiran seperti ini.
Kalaulah agama ini adalah warisan orang tua, maka terlalu banyak kita lihat keyakinan orang tua berbeda dengan anaknya. Tak perlu lah kita nukil kisah para nabi yang begitu banyak contoh bahwa anak berbeda dengan orang tua, suami dengan istri dan sebagainya (karena kaum liberalis juga punya “doktrin” bahwa Al Qur’an tidak bisa dipercaya, tentulah kisah didalamnya tidak bisa dijadikan pegangan, na’udzubillah). Lihatlah di sekeliling kita saja, betapa banyak orang tua beragama A, berkeyakinan A sedang anaknya berkeyakinan B. Tidak mesti orang yang lahir di Eropa lantas jadi non muslim dari lahir sampai wafatnya. Atau sebaliknya orang yang lahir di Arab Saudi (misalnya) akan jadi seorang muslim dari lahir sampai wafatnya.
Ini menunjukkan masalah agama, masalah keyakinan adalah masalah HIDAYAH (istilah kami dalam islam), atau setidaknya bukanlah sesuatu yang "SEKADAR" WARISAN. Bahkan orang yang "merasakan/mendapatkan hidayah" ini dengan perjuangan, dengan pembelajaran bahkan dengan pengorbanan. Maka wajar saja ketika seseorang membela keyakinannya dengan segenap jiwa raganya, karena ini bukanlah sesuatu yang "gampangan". Saya rasa bukan hanya umat islam yg merasa demikian, tapi umat agama lain pun punya perasaan demikian.
Ide yang ditawarkan oleh tulisan ini adalah agar umat islam merasa tidak "paling benar" karena bagi si penulis rasa paling benar inilah sumber masalah di muka bumi ini. Lantas dia mengutip syair jalaludin rumi yang difatwa sesat pemikiran nya karena pernah “Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zaradasyti. Bagiku, tempat ibadah adalah sama… masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala.” [ Dinukil dari Ash-Shufiyyah Fi Mizanil Kitabi Was Sunnah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal.24-25.] tentu saja orang2 yang terkena pengaruh filsafat akan melakukan ta'wil untuk membela tokoh tersebut. Padahal "merasa paling benar" adalah fitrah sebagai manusia, bahkan sang pencetus perkataan "janganlah kalian merasa paling benar" sebenarnya juga merasa paling benar dengan ucapannya itu sendiri. Ironis memang.
Bahkan pada beberapa tulisan selanjutnya sang penulis remaja tersebut menuliskan kalimat kufur untuk meninggalkan dalil dan mengutamakan logikanya. Andaikan saja kita setuju (walaupun mustahil! Seorang muslim yang beriman rela meninggalkan dalil/wahyu karena tidak cocok dengan akalnya), lantas logika siapa yang hendak dijadikan patokan?? Logika dia? Logika jalaludin rumi? Logika orang plato? logika pendukung LGBT? Ataukah logika para ulama seperti imam syafi'i rahimahullah? Dengan percaya diri dia berkata orang yang menyampaikan dalil melakukan logical fallacy (mungkin setelah dapat masukan dari senior2 liberalisnya), padahal yang disampaikan adalah nasihat dari saudara seimannya yang notabene memang bertujuan untuk mengetuk hati sang penulis dengan nasihat tersebut, sang penasihat berusaha memberikan ilustrasi sederhana dari sudut pandangannya, berusaha tidak untuk menghakimi, tapi ternyata ditanggapi sebagai tulisan rendahan.
==kepada semua pihak yang "sangat logis" dan meremehkan agama pertanyaan ini saya ajukan ==
Kalaulah engkau begitu merasa logikamu adalah "kebenaran sejati", maka pastilah bisa menjawab pertanyaan berikut ini (karena salah satu faktor manusia beriman pada agama, pada kitab suci, pada dalil adalah untuk menjawab beberapa pertanyaan ini ) :
1. Terangkan kepada saya dengan logika, Anggap umur anda sudah 20thn dimana anda 21 tahun yang lalu?
2. Terangkan pada saya apa itu ruh atau jiwa atau nyawa? Apa komposisinya? Bagaimana wujudnya? Berapa kadarnya? Gak usah ruh/nyawa/jiwa saya, atau orang lain, jelaskan dan buktikan dengan ruh anda sendiri, yang anda hidup dengannya.
3. Terangkan pada saya apa itu akal atau logika? Apa komposisinya? Seberapa kadarnya? Kenapa ada orang yang kurang akalnya (barang kali saya juga termasuk) seperti idiot, bodoh atau semacamnya sedangkan orang lain tidak dikatakan demikian? Bagaimana wujudnya?
4. Apa yang akan anda katakan & lakukan BESOK HARI di waktu ini, menit ini, detik ini?
5. Apa perasaan ketika anda mati?
Bukankah pertanyaan2 semacam ini yang disukai oleh orang "cerdas" dan tentu saja tidak mungkin anda yang "cerdas" dan logika yang tinggi menjawab tidak tahu, atau menjawab dengan doktrin ajaran tertentu? Karena jika menggunakan dalil dari agama maka pastilah akan terjadi opsi mengambil salah satu keyakinan dan itu termasuk perasaan "paling benar" yang anda sekalian larang sendiri. Bersambung, in syaa Allah.
Read more ...

Friday, April 21, 2017

Pengertian Hadits mutawatir

Ketahuilah saudaraku, bahwa hadits dilihat dari banyaknya jalan terbagi menjadi dua yaitu hadits Mutawatir dan hadits ahad.
Kita akan membahas hadits mutawatir terlebih dahulu.

Pengertian Hadits mutawatir
Pengertian Hadits mutawatir


Al Hafidz ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab Nuzhatunnazhor berkata: "Apabila terkumpul empat syarat berikut ini, yaitu:
1. Jumlah yang banyak yang secara kebiasaan tidak mungkin mereka bersepakat di atas kedustaan.
2. Mereka (jumlah yang banyak) meriwayatkan dari yang sama dengan mereka dari awal sampai akhir sanad.
3. Sandaran periwayatan mereka adalah panca indera.
4. kabar mereka menghasilkan ilmu (keyakinan) bagi pendengarnya.
Maka ini disebut mutawatir. Bila tidak menghasilkan ilmu, maka disebut masyhur saja. (An Nukat Ala Nuzhatinnadzor hal 56)

Inilah syarat syarat hadits untuk disebut mutawatir. Kita perjelas satu persatu.
Syarat yang pertama adalah jumlah yang banyak. Terjadi perselisihan para ulama berapa jumlah banyak yang dapat disebut mutawatir; sebagian ulama berpendapat lima ke atas, ada yang berpendapat sepuluh, ada lagi dua puluh dan sebagainya.
Yang paling kuat adalah bahwa mutawatir tidak dibatasi oleh jumlah tertentu. Inilah yang dirojihkan (dikuatkan -ed) oleh banyak ulama muhaqiq seperti syaikhul islam ibnu Taimiyah, Al Hafidz ibnu Hajar Al Asqolani, Assuyuthi dan lainnya.
Terlebih bila kita melihat syarat yang keempat yaitu menghasilkan keyakinan. Suatu kabar menghasilkan keyakinan atau tidak, tidak ditentukan oleh sebatas jumlah tapi terkadang karena indikasi indikasi lainnya.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
"Pendapat yang sahih yang dipegang oleh mayoritas ulama adalah bahwa mutawatir tidak terbatas dengan jumlah tertentu. dan ilmu yang terhasilkan dari suatu kabar, akan terhasilkan di hati. sebagaimana terhasilkannya kenyang setelah makan, puas setelah minum. Tetapi sesuatu yang mengenyangkan seseorang atau memuaskannya tidak memiliki batasan tertentu.
Sesuatu yang mengenyangkan itu bisa jadi karena kwantitas makanan atau kwalitasnya... (Majmu Fatawa 18/50)

Perkataan Al Hafidz: Secara kebiasaan tidak mungkin mereka bersepakat di atas kedustaan.
Maksudnya karena melihat ketaqwaan dan kejujurannya yang luar biasa. Dimana jumlah mereka banyak dan negeri mereka berjauhan, namun kabar mereka serupa.

Sebuah contoh: Bila kita pergi ke sumatera lalu kita bertemu dengan orang yang kita ketahui amat taqwa dan jujur memberitakan sebuah kabar.
Kemudian kita pergi ke Irian jaya, dan bertemu dengan orang yang taqwa dan jujur yang memberitakan kabar yang mirip dengan yang pertama.
Kemudian kita pergi ke sumbawa dan bertemu dengan orang yang taqwa dan jujur yang juga memberitakan kabar yang serupa.
Tentu hal ini akan menghasilkan keyakinan akan kebenaran berita tersebut setelah melihat sifat pembawa beritanya yang taqwa dan jujur, daerah mereka yang berjauhan, dan mungkin tidak saling mengenal satu sama lainnya, sehingga secara nalar tidak mungkin mereka bersepakat untuk berdusta.


Adapun syarat yang kedua yaitu jumlah yang banyak tersebut harus ada pada semua tingkatan sanad.
Bila tingkatan sahabat hanya dua misalnya, dan tingkatan tabiin banyak demikian pula tingkatan dibawahnya, tidak disebut mutawatir.

Adapun syarat ketiga yaitu sandaran periwayatan mereka adalah panca indera maksudnya adalah bahwa periwayatan mereka dengan mengatakan : aku mendengar, aku melihat, meraba dan sebagainya yang dilakukan oleh panca indera.
Maka bila itu berupa hasil pemikiran akal tidak disebut mutawatir.

Adapun syarat keempat yaitu khabar yang diriwayatkan harus menghasilkan ilmu (keyakinan). Suatu kabar menghasilkan ilmu atau tidak, ditentukan oleh banyak faktor.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berkata:
"Kabar yang menghasilkan keyakinan terkadang karena banyaknya perawi, terkadang karena sifat pembawa kabarnya, terkadang karena sisi pengabarannya itu sendiri, terkadang karena pengetahuan yang dikabari dan sebagainya.
Terkadang jumlah yang sedikit menghasil keyakinan karena perawinya memiliki agama dan hafalan yang kita merasa aman dari kedustaan atau kesalahan mereka.
Sementara jumlah yang lebih banyak dari itu terkadang tidak menghasilkan keyakinan (karena kurangnya hafalan dan agama mereka).
Inilah pendapat yang benar yang dipegang oleh mayoritas ulama hadits dan fiqih. (Majmu fatawa 20/258)

Macam macam hadits mutawatir

Pertama: muatawatir lafdzi.
Yaitu hadits yang mutawatir lafadz dan maknanya. Dimana diriwayat oleh jumlah yang banyak dengan lafadz yang sama.
Contohnya adalah hadits:
من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار
Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dalam api neraka." HR Bukhari dan Muslim.
Hadits ini diriwayatkan oleh tujuh puluh lebih shahabat dan jumlah tersebut semakin banyak pada tingkatan tingkatan setelahnya.

Kedua: Mutawatir maknawi.
Yaitu hadits yang diriwayatkan secara mutawatir dengan lafadz lafadz yang berbeda beda, namun mempunyai makna yang sama.
Contohnya adalah hadits mengangkat tangan dalam berdoa. Diriwayatkan dari nabi shalallahu alaihi wasallam sekitar seratus hadits, namun pada kejadian yang berbeda beda.
Contoh lainnya adalah hadits tentang adzab kubur, hadits tentang mengusap dua khuff, hadits tentang larangan isbal, dan lain sebagainya.

Diantara buku yang mengumpulkan hadits hadits mutawatir adalah kitab Al Azhar Al mutanatsiroh fil ahadits almutawatiroh karya imam Assuyuthi.
Juga kitab Nadzmul mutanatsir minal haditsil mutawatir. Karya Muhammad bin Ja'far Al Kattani.
Read more ...

Tuesday, November 8, 2016

Belajar Hadits 3 : Bagaimana Mengetahui Keadilan Perawi?

Setelah membaca Belajar Hadits 2 : Cara-Cara Para Ulama Dalam Menjaga Ilmu Hadits maka kita temukan istilah "Perawi yang Adil". Nah, pada tulisan singkat kali ini kita membahas tentang Bagaimana Mengetahui Keadilan Perawi Hadits? Silakan disimak penjelasan berikut.

Belajar ilmu Hadits
Belajar ilmu Hadits

Jumhur ahli hadits berpendapat bahwa keadilan perawi dapat diketahui dengan salah satu dari dua cara, yaitu:

Pertama: Terkenal keadilannya

Maksudnya perawi itu masyhur dikalangan ahli hadits kebaikannya dan banyak yang memujinya sebagai perawi yang amanah dan tsiqah, maka ketenaran ini sudah mencukupi dan tidak lagi membutuhkan kepada saksi dan bukti, seperti imam yang empat, Syu’bah, Sufyan bin ‘Uyainah dan Sufyan Ats Tsauri, Yahya bin Ma’in dan lain-lain.

Kedua: Pernyataan dari seorang imam

Bila seorang perawi tidak ditemukan pujian (ta’dil) kecuali dari seorang imam yang faham maka diterima ta’dilnya selama tidak ditemukan padanya jarh (celaan) yang ditafsirkan.

2. Periwayatan yang ia riwayatkan apakah ia menguasainya atau tidak, atau yang disebut dalam ilmu hadits dengan istilah dlabth dan itqan.

Ada dua cara yang digunakan oleh para ahli hadits untuk mengetahui kedlabitan perawi, yaitu:

A. Membandingkan periwayatannya dengan periwayatan perawi-perawi lain yang terkenal ketsiqahan dan kedlabitannya.
Jika mayoritas periwayatannya sesuai walaupun dari sisi makna dengan periwayatan para perawi yang tsiqah tersebut dan penyelisihannya sedikit atau jarang maka ia dianggap sebagai perawi yang dlabit. Dan jika periwayatannya banyak menyelisihi periwayatan perawi-perawi yang tsiqah tadi maka ia dianggap kurang atau cacat kedlabitannya dan tidak boleh dijadikan sebagai hujah. Akan tetapi jika si perawi tersebut mempunyai buku asli yang shahih dan ia menyampaikannya hanya sebatas dari buku bukan dari hafalannya maka periwayatannya dapat diterima.

B. Menguji perawi.
Bentuk-bentuk ujian kepada perawi bermacam-macam diantaranya adalah dengan membacakan padanya hadits-hadits lalu dimasukkan di sela-selanya periwayatan orang lain, jika ia dapat membedakan maka ia adalah perawi yang tsiqah dan jika tidak dapat memebedakannya maka ia kurang ketsiqahannya. Diantaranya juga adalah membolak-balik matan dan sanad sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli hadits Baghdad terhadap imam Bukhari. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum menguji perawi, sebagian ulama mengharamkannya seperti Yahya bin Sa’id Al Qathan dan sebagian lagi melakukannya seperti Syu’bah dan Yahya bin Ma’in. Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah memandang bahwa menguji perawi adalah boleh selama tidak terus menerus dilakukan pada seorang perawi karena mashlahatnya lebih banyak dibandingkan mafsadahnya yaitu dapat mengetahui derajat seorang perawi dengan waktu yang cepat.

Sumber : Telegram ulumul Hadits
Bersambung in Syaa Allah..
Read more ...

Tuesday, September 27, 2016

Belajar Hadits 2 : Cara-Cara Para Ulama Dalam Menjaga Ilmu Hadits

Setelah membahas mengenai istilah-istilah ilmu hadits secara ringkas, mari kita lanjutkan pembahasan mengenai cara-cara para ulama dalam menjaga ilmu hadits ini.

Cara-Cara Para Ulama Dalam Menjaga Ilmu Hadits
Cara-Cara Para Ulama Dalam Menjaga Ilmu Hadits 


Bagaimana para ulama membela hadits Nabi?

Sebelum kita mengkaji ilmu hadits, ada baiknya kita melihat bagaimana kesungguhan para ulama hadits dalam membela hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Para ulama telah menyingsingkan lengan mereka bersungguh-sungguh membela hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka memeriksa sanad-sanad hadits dengan cara yaitu:

Pertama: Mengenal sejarah perawi hadits

Maksudnya adalah nama, kunyah, gelar, nisbat, tahun kelahiran dan kematian, guru-guru dan muridnya, tempat-tempat yang dikunjunginya, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan sejarah perawi tersebut, sehingga dari sini dapat diketahui sanad yang bersambung dengan sanad yang tidak bersambung seperti mursal, mu’dlal, mu’allaq, munqathi’ dan diketahui pula perawi yang majhul ‘ain atau hal juga kedustaan seorang perawi. Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata: "Ketika para perawi menggunakan dusta, maka kami gunakan sejarah untuk (menyingkap kedustaan) mereka."

‘Ufair bin Ma’dan Al kila’i berkata: "Datang kepada kami Umar bin Musa di kota Himish, lalu kami berkumpul kepadanya di masjid, maka ia berkata: "Haddatsana (telah bercerita kepada kami) syaikh kalian yang shalih, ketika ia telah banyak berkata demikian, aku berkata kepadanya: "Siapakah syaikh kami yang shalih itu, sebutkanlah namanya agar kami dapat mengenalinya."

Ia berkata: "Khalid bin Ma’dan."

Aku berkata: "Tahun berapa engkau bertemu dengannya ?"

Ia menjawab: "Tahun 108H."

Aku berkata: "Di mana engkau bertemu dengannya ?"

Ia menjawab: "Di perang Armenia."

Aku berkata kepadanya: "Bertaqwalah engkau kepada Allah dan jangan berdusta!! Khalid bin Ma’dan wafat pada tahun 104H dan tadi engkau mengklaim bertemu dengannya pada tahun 108H, dan aku tambahkan lagi untukmu bahwa ia tidak pernah mengikuti perang Armenia, namun ia ikut perang melawan Romawi."

Abul Walid Ath Thayalisi berkata: "Aku menulis dari Amir bin Abi Amir Al Khozzaz, suatu hari ia berkata: "Haddatasana ‘Atha bin Abi Rabah."

Aku berkata kepadanya: "Tahun berapa engkau mendengar dari ‘Atha ?"

Ia menjawab: "Pada tahun 124H."

Aku berkata: "‘Atha meninggal antara tahun 110-119H."

Kedua: Memeriksa riwayat-riwayat yang dibawa oleh perawi dan membandingkannya dengan perawi lain yang tsiqah (terpercaya) baik dari sisi sanad maupun matan

Dengan cara ini dapat diketahui kedlabitan (penguasaan) seorang perawi sehingga dapat divonis sebagai perawi yang tsiqah atau bukan, dengan cara ini pula dapat diketahui jalan-jalan sebuah periwayatan dan matan-matannya sehingga dapat dibedakan antara riwayat yang shahih, hasan, dla’if, syadz, munkar, mudraj, juga dapat mengetahui illat (penyakit) yang dapat mempengaruhi keabsahan riwayatnya dan lain sebagainya. Di antara contohnya adalah:

Khalid bin Thaliq bertanya kepada Syu’bah: “Wahai Abu Bistham, sampaikan kepadaku hadits Simak bin Harb mengenai emas dalam hadits ibnu Umar.”

Ia menjawab: “Semoga Allah meluruskanmu, hadits ini tidak ada yang meriwayatkannya secara marfu’ kecuali Simak.”

Khalid berkata: “Apakah engkau takut bila aku meriwayatkannya darimu ?”

Ia menjawab: “Tidak, akan tetapi Qatadah menyampaikan kepadaku dari Sa’id bin Musayyib dari ibnu Umar secara mauquf, dan Ayyub mengabarkan kepadaku dari Nafi’ dari ibnu Umar secara mauquf juga, demikian juga Dawud bin Abi Hindin menyampaikan kepadaku dari Sa’id bin Jubair secara mauquf juga, ternyata dimarfu’kan oleh Simak, makanya aku khawatir pada (riwayat)nya.”

Kisah ini menunjukkan bahwa para ulama hadits mengumpulkan semua jalan-jalan suatu hadits dan membandingkan satu sama lainnya dengan melihat derajat ketsiqahan para perawi; mana yang lebih unggul dan mana yang tidak sehingga dapat diketahui penyelisihan seorang perawi dalam periwayatannya, dan ini sangat bermanfaat sekali untuk menyingkap illat (penyakit) sebuah hadits dan kesalahan-kesalahan perawi dalam meriwayatkan hadits.

Yahya bin Ma’in pernah datang kepada ‘Affan untuk mendengar kitab-kitab Hammad bin Salamah, lalu ‘Affan berkata kepadanya: “Apakah engkau tidak pernah mendengarnya dari seorangpun?”

Ia menjawab: “Ya, Aku mendengar dari tujuh belas orang dari Hammad bin Salamah.”

‘Affan berkata: “Demi Allah, aku tidak akan menyampaikannya kepadamu.”

Berkata Yahya: “Ia hanya mengharapkan dirham.” Lalu Yahya bin Ma’in pergi menuju Bashrah dan datang kepada Musa bin Isma’il, Musa berkata kepadanya: “Apakah engkau tidak pernah mendengar kitab-kitabnya dari seorangpun?”

Yahya menjawab: “Aku mendengarnya dari tujuh belas orang dan engkau yang kedelapan belas.”

Ia berkata: “Apa yang engkau lakukan dengan itu?”

Yahya menjawab: “Sesungguhnya Hammad bin Salamah terkadang salah maka aku ingin membedakan antara kesalahannya dengan kesalahan orang lain, apabila aku melihat ashhabnya (para perawi yang sederajat dengannya) bersepakat pada sesuatu, aku dapat mengetahui bahwa kesalahan berasal dari Hammad, dan apabila mereka semua bersepakat meriwayatkan sesuatu darinya namun salah seorang perawi darinya menyalahi periwayatan perawi-perawi lain yang sama-sama meriwayatkan dari Hammad, aku dapat mengetahui bahwa kesalahan itu dari perawi tersebut bukan dari Hammad, dengan cara itulah aku dapat membedakan kesalahan Hammad dengan kesalahan orang lain terhadap Hammad”.

Subhanallah ! demikianlah Allah menjaga agama ini dengan adanya para ulama yang amat semangat dalam menelusuri periwayatan hadits dan membedakan antara periwayatan yang benar dari periwayatan yang salah. Dengan mengumpulkan jalan-jalan hadits dapat diketahui pula mutaba’ah dan syawahid serta kesalahan matan hadits yang bawakan oleh seorang perawi.

Ketiga: Merujuk buku asli perawi hadits

Cara ini digunakan oleh para ahli hadits untuk mengetahui kebenaran seorang perawi yang mengaku mendengar dari seorang syaikh, mereka meneliti dengan seksama buku asli perawi tersebut bahkan diperiksa juga kertasnya, tintanya dan tempat penulisannya. Zakaria bin Yahya Al Hulwani berkata: “Aku melihat Abu Dawud As Sijistani telah memberikan tanda kepada hadits Ya’qub bin Kasib di punggung kitabnya, maka kami bertanya mengapa ia melakukan itu?

Ia menjawab: “Kami melihat di musnadnya hadits-hadits yang kami ingkari, lalu kami meminta buku aslinya namun ia menolak, beberapa waktu kemudian ia mengeluarkan bukunya, ternyata kami dapati hadits-hadits tersebut tampak dirubah dengan (bukti) tinta yang masih baru yang tadinya hadits-hadits tersebut mursal tetapi ia menjadikannya musnad dan diberikan tambahan padanya.”

Keempat: Memeriksa lafadz dalam menyampaikan hadits

Ketika menyampaikan hadits, para perawi menggunakan lafadz-lafadz sesuai dengan keadaan ia mengambil hadits tersebut, bila ia mendengar langsung dari mulut syaikh atau syaikh yang membacakan kepadanya hadits, biasanya digunakan lafadz “Haddatsana” dan bila dibacakan oleh murid kepada syaikh biasanya menggunakan “Akhbarona” atau “Anbaana” dan ini semua lafadz-lafadz yang menunjukkan bahwa si perawi mendengar langsung dari Syaikh, dan ada juga lafadz-lafadz yang mengandung kemungkinan mendengar langsung atau tidak, seperti lafadz ‘an fulan (dari si fulan) atau qola fulan (berkata si fulan), lafadz seperti ini bisa dihukumi bersambung dengan dua syarat:

1. Memungkinkan bertemunya perawi itu dengan syaikhnya, seperti ia satu zaman dengan syaikhnya dan lain-lain.

2. Perawi tersebut bukan mudallis.

Bila salah satu dari dua syarat ini tidak terpenuhi maka sanadnya dianggap tidak bersambung atau lemah.

Kelima: Memeriksa ketsiqahan perawi-perawi hadits

Pemeriksaan para perawi hadits berporos pada dua point penting yaitu:

1. Kepribadian perawi dari sisi agama dan akhlaknya, atau yang disebut dalam ilmu hadits dengan ‘adaalah (adil).

Perawi yang adil menurut istilah ahli hadits adalah seorang muslim, baligh dan berakal, selamat dari sebab-sebab kefasiqan dan khowarim al muru’ah (adab-adab yang buruk). Dan sebab-sebab kefasiqan ada dua yaitu maksiat dan bid’ah. Dan kefasiqan yang merusak seorang perawi adalah fasiq karena maksiat (dosa besar) seperti minum arak, berzina, mencuri dan lain-lain.

Adapun bid’ah, para ulama berbeda pendapat dalam menyikapinya, diantara mereka ada yang menolak perawi ahlul bid’ah secara mutlak, dan diantara mereka ada yang menerimanya selama tidak menghalalkan dusta dan diantara mereka ada yang memberikan perincian-perincian tertentu seperti tidak menyeru kepada bid’ahnya, tidak meriwayatkan hadits yang mendukung bid’ahnya, dan lain-lain.

Namun bila kita perhatikan secara cermat bahwa sifat perawi yang diterima adalah kejujuran perawi (tidak menghalalkan dusta), amanah dan terpecaya agama dan akhlaknya. Dan bila kita periksa keadaan perawi-perawi yang melakukan bid’ah, banyak diantara mereka yang mempunyai sifat demikian dan mereka melakukan bid’ah bukan karena sengaja melakukannya atau menganggapnya halal, akan tetapi karena adanya ta’wil (syubhat) sehingga periwayatannya diterima oleh para ulama, berbeda jika si perawi mengingkari perkara agama yang mutawatir dan bersifat pasti dalam agama (dlaruri) atau meyakini kebalikannya, maka perawi seperti ini wajib ditolak periwayatannya. Saya akan sebutkan beberapa perawi yang melakukan bid’ah namun diterima haditsnya:

Muhammad bin Rasyid, Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: “Tsiqah dan ia qadari (pengikut qadariyah).

Aban bin Taghlib, perawi yang tsiqah, dianggap tsiqah oleh imam Ahmad dan Yahya bin Ma’in, dikatakan oleh ibnu ‘Adi: “Ekstrim dalam syi’ah”. Adz Dzahabi berkata: “Ia Syi’ah yang ekstrim namun shaduq (sangat jujur), maka untuk kita riwayatnya dan untuk dia kebid’ahannya”.

Abdurrazaq bin Hammam Ash Shan’ani tsiqah hafidz namun mempunyai keyakinan syi’ah. (syiah beliau hanya sebatas mengunggulkan Ali dan mencela Mu'awiyah. bukan syiah rafidah yg mengkafirkan para shahabat)

Abdul Majid bin Abdul ‘Aziz bin Abi Rawwad, dianggap tsiqah oleh ibnu Ma’in dan lainnya. Abu Dawud berkata: “Tsiqah menyeru kepada aqidah murji’ah”.

Muhamad bin Imran Abu Abdillah Al Marzabani Al Katib shaduq tetapi ia mu’tazilah yang keras.

bersambung, In Syaa Allah
sumber : Telegram ulumul Hadits
Read more ...

Baca Juga

Contact

Name

Email *

Message *

Komentar Terbaru

Copyright 2018 Belajar Islam Ahlussunnah. All Rights Reserved. Template By Seo Blogger Templates